Rabu, 12 Juli 2017

bocah ingusan dengan ke beloonan yang luar binasa

         Ada beberapa alasan mengapa gue selalu memutar balikan otak beserta kepala sendiri hingga keseleo kenapa harus pulkam (pulang kampung). Karena gw lahir di tempat rantauan sudah nyaman dengan yang namnya rumah sendiri. Namun yang namanya orang tua pasti kangen juga sama rumahnya, kampung gua ada di pulau emas tepatnya pulau sumbawa pulau dengan 10 matahari, Pantulan emas membuat kulit menghitam legam layaknya areng yang udah dari oroknya lahir di hina-hina.

    Dengan banyak pertimbangan akhirnya kita sekeluarga berangkat ngebayangin suasan menginjakan matahari dan terpanggang bak ayam taliwang yang siap di santap tinggal mengoleskan bumbunya saja. “penulis mulai kelaperan”

          Namun kali ini berbeda seingat gua yang masih anak ingusan dan beloon ya walupun sekarang masih beloon juga tapi sudah gak ingusan lagi.  pada hari itu gua pulang bulan maret ketika musim penghujan. kebahagian tersendiri Karena konon katanya 10 matahari itu tak sepanas seperti musim kemarau. Namun hal yang tak di sangka kehidupna di desa lebih ekstrim daripada di kota. Ketika musih hujan air sungai meluap hewat ternak kambing, kebo, sapi hanyut dengan cepat seperti kenangan gue dengan mantan.

         Hujan dan banjir yang ada di banyangan gue saat itu hanyalah satu kolam renang berenang di lupan air sungai berasa seperti atlit pernang dengan gaya star bak perenang propesional meloncat dari atap rumah orang. Mengunakan segala macama gaya dari gaya capung, kupu-kupu, elang hinggal gaya batu pun tak luput saat itu. Tak kurun dari berapa jam datanglah bemo kuning dengan supir kerenetnya yang menggas dengan kecepatan tinggi ( tai ngambang ). Membuat anak-anak berlari dan berenang sektika menjauh.  Membubarkan kerumunan gua Bersama teman gua.
      
       
           Kenangan masa kanak-kanak dengan oleh-oleh panu menempel di seluruh bada.


        Tersenyum adalah kebahagian yang terasa saat itu namun apa yang terbayang saat ini ketika sudah beranja dewa mandi di temanin dengan bemo kuning. sudah membuatku berfikir duakali tapi gua beloon dan akhirnya gue mandi lagi. “tepok jidat”

Selasa, 11 Juli 2017

Konfrensi meja rindang

Siang itu selepas kuliah pagi berakhir saras dan nadin yang menunggu pergantian kuliah duduk di taman depan fakultasnya, mereka bersanda gurau sambil mengejek satu sama lain. penasaran apa yang mereka tertawakan akhirnya aku nimbrung "eh eh lagi cerita apaan sih" seru ku dengan wajah penasaran. saras dan nadin menjawab "ini nih gosipin si lidia" bermula dari rasa penasaran lama jadi terbawa suasana. bermula dari gosip lidia hingga orang yang lalulang di sekitar ikut menjadi bahan pembicaraan. seharian di meja perundingan membuat malaikat pencatat dosa mulai menggerutu saking banyaknya dosa-dosa yang kami dapat dari gosip itu. 

nb: jadi ingat ya guys kalau mau bergosip jangan kayak ini ya. kasian malaikatnya kalau di rekam pake iphon juga harus di rangkum dosa-dosanya 😜