Ada beberapa alasan mengapa gue
selalu memutar balikan otak beserta kepala sendiri hingga keseleo kenapa harus
pulkam (pulang kampung). Karena gw lahir di tempat rantauan sudah nyaman dengan
yang namnya rumah sendiri. Namun yang namanya orang tua pasti kangen juga sama
rumahnya, kampung gua ada di pulau emas tepatnya pulau sumbawa pulau dengan 10
matahari, Pantulan emas membuat kulit menghitam legam layaknya areng yang udah
dari oroknya lahir di hina-hina.
Dengan
banyak pertimbangan akhirnya kita sekeluarga berangkat ngebayangin suasan
menginjakan matahari dan terpanggang bak ayam taliwang yang siap di santap
tinggal mengoleskan bumbunya saja. “penulis mulai kelaperan”
Namun
kali ini berbeda seingat gua yang masih anak ingusan dan beloon ya walupun sekarang
masih beloon juga tapi sudah gak ingusan lagi.
pada hari itu gua pulang bulan maret ketika musim penghujan. kebahagian
tersendiri Karena konon katanya 10 matahari itu tak sepanas seperti musim
kemarau. Namun hal yang tak di sangka kehidupna di desa lebih ekstrim daripada
di kota. Ketika musih hujan air sungai meluap hewat ternak kambing, kebo, sapi
hanyut dengan cepat seperti kenangan gue dengan mantan.
Hujan
dan banjir yang ada di banyangan gue saat itu hanyalah satu kolam renang
berenang di lupan air sungai berasa seperti atlit pernang dengan gaya star bak
perenang propesional meloncat dari atap rumah orang. Mengunakan segala macama
gaya dari gaya capung, kupu-kupu, elang hinggal gaya batu pun tak luput saat
itu. Tak kurun dari berapa jam datanglah bemo kuning dengan supir kerenetnya
yang menggas dengan kecepatan tinggi ( tai ngambang ). Membuat anak-anak
berlari dan berenang sektika menjauh.
Membubarkan kerumunan gua Bersama teman gua.
Kenangan
masa kanak-kanak dengan oleh-oleh panu menempel di seluruh bada.
Tersenyum
adalah kebahagian yang terasa saat itu namun apa yang terbayang saat ini ketika
sudah beranja dewa mandi di temanin dengan bemo kuning. sudah membuatku berfikir
duakali tapi gua beloon dan akhirnya gue mandi lagi. “tepok jidat”